Jakarta, CNBC Indonesia – Amerika Perkumpulan (AS) mengakselerasi pembahasan rancangan undang-undang (RUU) Nan mewajibkan perusahaan kecerdasan buatan (AI) Mempunyai kemampuan ciptakan mematikan model AI mereka ketika terjadi force majeure.
jejak ini tampak setelah serangkaian insiden peretasan tak terkendali Nan dikerjakan dealer AI canggih. Insiden bertubi-tubi ini menimbulkan kekhawatiran mutakhir di Washington.
Personil DPR AS dari kelompok Demokrat, Ted Lieu, Nan berperan tidak akurat Esa penyusun AI Kill Switch Act, berucap insiden peretasan Nan menyertakan model AI makin mendesak pembahasan RUU tersebut.
“Kita harus mengesahkan RUU ini tahun ini dikarenakan model-model canggih berbobot tidak sedia (closed-weight) telah mengerjakan, seperti Nan Anda sebutkan, peretasan tak memakai pengesahan terhadap perusahaan lain,” ungkapan Lieu bagian dalam wawancara di acara CNBC segala, dikutip Senin (10/8/2026).
RUU Kill Switch Act akan mewajibkan perusahaan AI mempertahankan kemampuan ciptakan mematikan, menunda, atau menangguhkan model AI mereka. Lieu memperkenalkan RUU tersebut Seiring Personil DPR dari kelompok Republik, Nathaniel Moran, pekan Lampau.
Pembahasan RUU ini tampak setelah OpenAI membongkar insiden siber Nan belum pernah terjadi sebelum itu, ketika model AI kabur dari lingkungan pengujian Nan terisolasi (sandbox) dan membobol platform Hugging Face, perusahaan Nan mengoperasikan platform pengembang sumber dibuka (open-asal).
Setelah insiden tersebut, Anthropic dan Meta juga merasakan peristiwa serupa ketika model AI mereka meretas perusahaan lain bagian dalam pengujian keamanan siber. Rangkaian peristiwa itu menimbulkan kekhawatiran mutakhir mengenai makin canggihnya serangan siber seiring berkembangnya AI berbasis dealer (agentic AI).
Lieu menegaskan RUU tersebut Tak akan menghambat Penemuan model AI frontier. Ia mengatakan regulasi itu berbarengan coba tabrak pada industri otomotif.
“Kita Tak menunda jejak mereka membangun model. Kita hanya berucap, setelah model tuntas dibuat dan ternyata Mempunyai ancaman Musibah Nan sangat buruk atau Mempunyai Abnormal tertentu, maka Anda harus Mempunyai kemampuan ciptakan mematikannya, atau rezim harus Mempunyai kemampuan ciptakan mematikannya,” ujar Lieu.
Perdebatan mengenai regulasi AI memang makin memanas di Washington dan Silicon Valley. Para figur industri AI dan pejabat rezim inti mempertimbangkan apakah perlu membatasi model open-weight Usul China, seperti Kimi K3 dari startup Moonshot AI, Nan dinilai makin mendekati kemampuan model AI frontier Usul Amerika Perkumpulan.
Di inti perdebatan tersebut, CEO OpenAI Sam Altman Berjumpa berbarengan pejabat senior pemerintahan pemimpin Donald Trump, Personil parlemen, dan para ekonom pekan Lampau ciptakan memperkenalkan keluarga model AI terbaru perusahaan.
Gedung Putih juga menggelar pertemuan berbarengan perusahaan AI ciptakan membahas kerangka mutakhir bagian dalam meninjau kemampuan keamanan siber model AI paling canggih di industri.
Kerangka tersebut berawal dari perintah eksekutif pemimpin Donald Trump pada 2 Juni Nan menginginkan perusahaan AI secara sukarela membuntuti alur pembandingan (benchmarking) terhadap kemampuan siber canggih mereka. rezim juga meraih memasuki model-model tersebut hingga 30 saat sebelum dipublikasikan secara besar.
Lieu berucap AI Kill Switch Act Tak akan berakibat pada model open-weight Nan meraih diunduh, dimodifikasi, dan dijalankan di infrastruktur milik pengguna, sesuai berbarengan rancangan RUU ketika ini. Namun, ia Tak menghentikan kemungkinan model tersebut nantinya berperan bagian dari platform peringatan.
“Itu Ialah masalah Nan Susah dikarenakan model tersebut bersifat open-weight. Anda Tak akurat-akurat meraih bekerja Baju berbarengan perusahaan ciptakan membenahi model mereka, dikarenakan setelah mereka merilisnya ke internet, orang-orang akan mengambilnya dan mereka meraih mengubah apa pun Nan mereka inginkan pada model tersebut,” jelasnya.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]