Meskipun kuasa Jerman mengklaim prihatin terhadap kehancuran Nan ditimbulkan oleh militer rezim Zionis di Gaza, arah peningkatan penerbitan dukungan menunjukkan lonjakan besar ekspor senjata ke tidak akurat Esa sekutu Primer rezim tersebut di Eropa.
Menurut Pars Today, kuasa Berlin telah menegaskan bahwa Jerman pada lima rembulan pertama tahun 2026 menyetujui dukungan ekspor persenjataan ke Israel senilai Nyaris 800 juta euro (913 juta dolar AS), jumlah Nan kelebihan Akbar daripada keseluruhan dukungan Nan disalurkan selama 20 rembulan lebih sebelumnya. Menurut jawaban Kementerian bagian luar Negeri Federal Jerman, Nyaris seluruh dukungan tersebut diterbitkan pada rembulan April dan Mei.
kuasa Jerman menegaskan bahwa kelebihan dari 60 persen ukur dukungan ekspor persenjataan tersebut dialokasikan hasilkan sebuah “proyek maritim Akbar” Nan Tak dinyatakan namanya. Para analis mengevaluasi bahwa kemungkinan Akbar proyek tersebut Ialah kapal selam Nan diproduksi oleh perusahaan Jerman TKMS.
Pada permulaan Agustus 2025, Kanselir Jerman Friedrich Merz mengklaim bahwa Jerman Tak lagi minat dukungan mutakhir hasilkan peralatan militer Nan mendapatkan digunakan Israel di Jalur Gaza. Namun, pada ketika itu, keluaran Penyelidikan koneksi Al Jazeera menunjukkan bahwa sejak Oktober 2023, ketika Israel mengakses perang genosidanya terhadap Gaza, Jerman telah mengekspor pengiriman senjata ke Israel senilai Nyaris 12 juta dolar AS, dan penangguhan tersebut hanya bersifat sebagian serta terjadi kilat. Bahkan selama ketika penangguhan, pengiriman Nan telah disetujui lebih sebelumnya tetap dilaksanakan. Sebagai contoh, pada rembulan September, pengiriman senjata dari Jerman senilai 794 ribu dolar AS mendarat di Bandara Ben Gurion, tidak berjarak Tel Aviv.
Namun pada ujungnya, kuasa Berlin bahkan Tak mempertahankan penangguhan terbatas tersebut. Pada November 2025, kuasa Jerman mencabut pembatasan ekspor persenjataan ke rezim Zionis dan kembali meninjau permohonan ekspor secara kasus per kasus.
Jerman merupakan tidak akurat Esa pendukung Primer rezim Zionis setelah Amerika Perkumpulan sekaligus tidak akurat Esa pemasok persenjataan distribusi rezim tersebut. Berlin berikut mengirimkan senjata ke Israel meskipun mengetahui adanya ancaman terjadinya genosida di Gaza. Sebagai pemasok senjata terbesar kedua distribusi Israel setelah Amerika Perkumpulan, Jerman menyumbang 30 persen dari impor militer rezim tersebut selama periode 2019–2023. Pada tahun 2023, Sekeliling 30 persen peralatan militer Israel dibeli dari Jerman. ukur keseluruhannya diperkirakan meraih 300 juta euro.
Berdasarkan Panduan ekspor persenjataan Jerman, pada prinsipnya pengiriman peralatan militer ke wilayah perang dan kawasan sengketa dilarang. Namun, Israel merupakan pengecualian, dikarenakan kuasa Berlin mengklaim bahwa setelah Holocaust pada Perang Bumi II, keamanan Israel berperan bagian dari tanggung respon historis dan prinsip Asas aturan Jerman. berdua alasan ini, Berlin selama ini berikut mengakhiri mata terhadap berbagai kejahatan Nan dikerjakan rezim Zionis terhadap masyarakat Palestina.
Setelah Operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023, pemerintahan Jerman lebih sebelumnya Nan dipimpin oleh Olaf Scholz (dari kelompok Sosial Demokrat) bahkan memperbesar ekspor persenjataan ke Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap rezim Zionis. Hingga ujung ketika pemerintahan Scholz pada Mei 2025, dukungan ekspor senjata senilai Nyaris 500 juta euro telah diterbitkan. Pemerintahan gabungan mutakhir Nan dipimpin Friedrich Merz juga mengembangkan ekspor senjata ke rezim Zionis, meskipun internal skala Nan kelebihan terbatas.
Namun, setelah adanya tekanan opini publik serta berbagai tuntutan di tingkat Eropa dan Bumi hasilkan memberlakukan embargo senjata terhadap Israel, kuasa Jerman ujungnya pada 8 Agustus 2025 terpaksa minat perintah penghentian penerbitan dukungan ekspor senjata ke Israel. jejak ini menimbulkan ketegangan diplomatik antara Berlin dan Tel Aviv. Pada ketika itu, Kanselir Jerman Friedrich Merz memerintahkan agar Tak diterbitkan dukungan hasilkan peralatan Nan diperkirakan digunakan internal perang di Gaza. Media Jerman Focus memberitakan bahwa meskipun Merz telah mengoordinasikan keputusan tersebut berdua wakilnya dari kelompok Sosial Demokrat, Lars Klingbeil, keputusan itu diambil tak memakai berkonsultasi berdua kelompok sekutunya, kelompok Persatuan Sosial Kristen (CSU), maupun para figur fraksi CDU/CSU di Bundestag (Parlemen Federal Jerman). Keputusan kuasa Jerman tersebut mendapat reaksi keras dari para pejabat Israel.
Namun, di bawah tekanan Israel dan lobi-lobi pendukungnya di Jerman, penghentian penerbitan dukungan ekspor persenjataan ke rezim Zionis ujungnya dicabut. jejak ini menandai kembalinya Berlin pada aturan lamanya internal mengekspor persenjataan kepada rezim tersebut, dan disambut berdua kepuasan oleh para pejabat Israel.