RRI.co.id, Bandung: Sinema horor Pinocchio: Unstrung memunculkan edisi paling kelam dari kisah boneka kayu legendaris. Disutradarai Rhys Frake-Waterfield, Nan lebih sebelumnya dikenal lewat Winnie-the-Pooh: Blood and Honey, Sinema ini mengubah Pinocchio sebagai pembunuh berdarah adem bagian dalam balutan slasher penuh adegan sadis.
bagian dalam ulasannya, Variety mengukur pengaruh terbesar Sinema ini Malah terletak pada tampilan Pinocchio. Boneka kayunya dibuat memanfaatkan perpaduan efek praktis, animatronik, dan teknik puppetry Nan dianggap sangat meyakinkan. ciptaan Pinocchio Nan keras, retak, dan menyeramkan sebagai keliru Esa aspek Nan paling menonjol sepanjang Sinema.
Ceritanya membuntuti Geppetto, Nan kali ini digambarkan sebagai ilmuwan eksentrik, bukan tukang kayu. Ia menciptakan Pinocchio sebagai makhluk Hayati buatan. Ketika Pinocchio Berjumpa James, cucu Geppetto, naluri melindunginya berubah sebagai tindakan balas dendam brutal terhadap siapa pun Nan dianggap menyakiti James. Dari situlah rangkaian pembunuhan berdarah dimulai.
Meski dipenuhi adegan gore Nan ekstrem dan kreatif, Variety mengukur Sinema ini Tetap loyo dari sisi kisah. Alur dianggap turun bersih, Watak Tak berkembang berbarengan berkualitas, dan lumayan berlimpah adegan pembunuhan terasa hanya dibuat hasilkan mengejutkan penonton. Unsur horornya pun dinilai Tak terlalu menegangkan meski visual kekerasannya lumayan mengganggu.
Pada ujungnya, Pinocchio: Unstrung diungkap sebagai tontonan Nan kelebihan tertarik sebar penggemar Sinema slasher kelas B dibanding penonton Biasa. Meski belum tercapai memunculkan kisah Nan kokoh, Sinema ini menunjukkan perkembangan Rhys Frake-Waterfield bagian dalam memanfaatkan efek praktis dan menciptakan visual horor Nan kelebihan kreatif dibanding karya-karyanya lebih sebelumnya.