BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com – Kasus pembunuhan satwa diamankan berupa tapir di Kabupaten Mesuji, Lampung, berperan sorotan berbagai pihak, termasuk pegiat konservasi.
Peristiwa tersebut dinilai sebagai cerminan Tetap rendahnya pemahaman masyarakat terkait pentingnya perlindungan satwa liar, khususnya Nan terancam punah.
Pegiat Konservasi Lampung Nan juga Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS), Febrilia Ekawati, mengevaluasi bahwa edukasi dan pendidikan konservasi sejak permulaan merupakan tapak Krusial hasilkan mencegah peristiwa serupa terulang di Era mendatang.
“Merefleksikan peristiwa dibunuhnya dan dikonsumsinya daging tapir sebagai satwa Nan terancam punah di Kabupaten Mesuji, ini berperan gambaran bahwa Tak Seluruh masyarakat di Provinsi Lampung memahami mengenai pentingnya menjaga dan melestarikan satwa, terutama satwa liar Nan terancam punah,” ujar Febrilia Ekawati di Bandarlampung, Jumat (3/7/2026) dikutip dari Antara.
lafal juga: Pembunuh Tapir di Mesuji Terancam 15 Tahun Penjara, BKSDA Soroti Rendahnya Edukasi Masyarakat
Kenapa edukasi konservasi berperan Krusial?
Menurut Febrilia, kurangnya pemahaman masyarakat terhadap kondisi perlindungan satwa liar berperan keliru Esa Unsur Primer terjadinya pembunuhan satwa.
Padahal, tapir merupakan keliru Esa satwa Nan melangkah masuk kategori terancam punah secara semesta.
Ia memaparkan bahwa berdasarkan keterangan International Union for Conservation of Nature (IUCN), tapir termasuk internal kategori endangered atau Mempunyai ancaman kepunahan menjulang. Selain itu, di Indonesia satwa ini juga telah diamankan oleh undang-undang.
“Pendidikan konservasi ini harus mulai ditumbuhkan sejak permulaan dari tingkat taman kanak-kanak, agar peristiwa di daftar 45 Mesuji Tak terulang,” katanya.
lafal juga: Tapir Disembelih di Mesuji, Personil DPR Minta Penduduk Diedukasi
Bagaimana tapak tercapai menyebarkan edukasi konservasi?
Febrilia menyorot bahwa pendidikan konservasi Tak hanya dikerjakan di lingkungan formal seperti sekolah, tetapi juga perlu dikembangkan ke berbagai lapisan masyarakat.
extra dari Esa teknik Nan mendapatkan dikerjakan antara lain:
- Edukasi melalui sekolah, mulai dari tingkat Asas hingga menengah
- Sosialisasi internal Lembaga pertemuan masyarakat di tingkat desa
- Pendekatan melalui evaluasi-evaluasi Religi
- Pemanfaatan budaya Domestik sebagai media penyampaian pesan konservasi.
“Di Provinsi Lampung ini pas melimpah sekali spesies satwa langka Nan terancam punah, sehingga edukasi konservasi melalui pendekatan kontekstual sesuai budaya Domestik atau keagamaan ini mendapatkan berperan tapak hasilkan mengutarakan pesan-pesan konservasi,” ucapnya.
Pendekatan Nan sesuai berdua konteks sosial budaya dinilai extra tercapai internal membangun kesadaran masyarakat secara berkelanjutan.
lafal juga: Polisi singkap Motif Pembunuhan Tapir di Mesuji, Pelaku Mengaku Hendak Konsumsi Dagingnya
Apa kaitannya berdua area hutan dan masyarakat Sekeliling?
Febrilia mengevaluasi bahwa edukasi konservasi sangat Krusial sebar masyarakat Nan tinggal di Sekeliling kawasan hutan lindung, hutan konservasi, Lindungan alam, maupun taman domestik.
area-area tersebut Mempunyai potensi menjulang terjadinya interaksi antara Orang dan satwa liar.
Menurutnya, Kalau masyarakat Mempunyai pemahaman Nan berkualitas, maka potensi sengketa atau interaksi negatif mendapatkan diminimalkan.