JAKARTA, KOMPAS.com – ES (30), suami pembunuh istri di Tambora, Jakarta Barat, ternyata kerap mengerjakan Kekerasan bagian dalam Griya Tangga (KDRT) dan nyaris setiap masa terlibat cekcok berbarengan korban.
Adik kandung pelaku, Tasya, mengutarakan bahwa kakaknya Mempunyai kebiasaan Nan keras hingga korban pernah melarikan diri dari Griya usai dipukuli pada 2024 Lampau.
“Emang dari sebelumnya kan sering berantem, Nyaris setiap masa, istrinya itu pernah Tiba kabur dari Griya gara-gara dipukulin. Badannya memar Seluruh, pas tahun 2024 itu,” tutur Tasya ketika ditemui Kompas.com di Letak peristiwa, Selasa (23/6/2026).
lafal juga: romansa Bocah 5 Tahun Nan Membongkar Dugaan Pembunuhan Ibunya di Tambora Jakbar
Meski tubuhnya penuh luka, R ketika itu ujungnya memutuskan hasilkan kembali kembali ke Griya.
jiwa seorang Bunda membuatnya rela menahan penderitaan demi ketiga buah hatinya.
“Tapi Beliau kembali lagi dikarenakan enggak tega ninggalin anaknya. Memang agak keras Beliau lelakinya itu, tapi kita enggak nyangka juga sebenarnya (Tiba membunuh),” ucapnya.
Tasya menuturkan, pas berlimpah orang Masa belakangan ini, intensitas pertengkaran antara ES dan R makin parah.
lafal juga: Suami Bunuh Istri di Tambor Jakbar Usai Cekcok Ditegur guna Narkoba
Pasalnya, di center himpitan ekonomi Nan menjerat keluarganya, pelaku Malah Tetap kerap memakai narkotika, sehingga menimbulkan emosi korban.
“Memang Eksis masalah ekonomi juga, Tiba jadi sering berantem itu. Kayaknya belakangan ini malah suaranya Nyaris setiap masa ribut gitu kedengeran dari Loka Saya juga,” tutur Tasya.
output pemeriksaan oleh kepolisian juga membuktikan bahwa pelaku merupakan seorang pecandu narkotika.
lafal juga: LPSK bongkar Bunda Kandung NS mendapatkan Pesan Ancaman Usai Laporkan Mantan Suami Bunuh Anak seorang diri
Hal itu pula Nan berperan pemicu keributan Akbar pada masa pembunuhan R pada Jumat (19/6/2026).
“Cekcok atau pertengkaran itu dipicu dikarenakan si suami ini memakai narkoba. Jadi kemungkinan istrinya ini ‘Kenapa sih memakai narkotika?’, kan gitu loh. ujungnya terwujud keributan,” tutur Kasi Humas Polres Metro Jakarta Barat, AKP Wisnu Wirawan.
Berdasarkan output pembuatan visum et repertum, terdeteksi pula jejak kekerasan sebelum R dijerat lehernya memakai sebuah kain seprai.
“output visum menunjukkan adanya tanda kekerasan pada tubuh korban. Misalkan Eksis pendarahan di bawah selaput bola mata, memar di bibir sisi bagian dalam,” ungkapan Wisnu.
lafal juga: Korban Percobaan Pembunuhan di Menteng Sempat Disetrum dan Dipaksa Hirup Gas Berbahaya
Keluarga Dukung tahapan legalitas
Sebagai keluarga terduga pelaku, Tasya mengaku pasrah dan mendukung tahapan legalitas Melangkah seadil-adilnya.