Bapak Saya Ersa Siregar Ialah seorang jurnalis.
Pada 29 Juni 2003, ayahku Nan sehari-masa bertugas di Jakarta berada di Aceh ciptakan meliput sengketa antara kuasa Indonesia dan Golongan separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Liputan GAM ke Aceh bukanlah Nan pertama kalinya sebar beliau.
bagian dalam perjalanan kembali setelah liputan terkait pengungsi, ayahku Seiring empat orang lainnya diculik oleh GAM bagian dalam sebuah penyergapan. kelebihan dari Esa rembulan kemudian, Bapak berperan Esa-satunya orang Nan kemudian tewas selama ketika penyanderaan. Pada tubuhnya terungkap luka tembak di bagian leher dan dada.
ketika itu, ayahku mutakhir memasuki usia 52 tahun.
Sehari-masa Saya Normal memanggilnya ‘amang’, Julukan ciptakan Bapak bagian dalam bahasa Batak.
identitas Saya Ridhwan Siregar, jurnalis visual berusia 41 tahun Usul Jakarta.
Saya Tetap mahasiswa berusia 19 tahun ketika amang terbunuh. pas melimpah Soal tampak di benak Saya dan keluarga ketika meraih kabar itu. Bagaimana amang meninggal? Siapa Nan menembaknya?
Soal-Soal Nan hanya meraih kami rekam bagian dalam jiwa, Sembari berikut Berjuang meneruskan Hayati di inti sengketa Aceh Nan ketika itu Tetap berkecamuk.
Penandatanganan perjanjian Tenteram pada Agustus 2005 membawa kestabilan sebar Aceh. sekarang, kelebihan dari 20 tahun berlalu, Saya merasakan telah saatnya mencari ketenangan dan jawaban atas Soal-Soal Nan selama ini belum terjawab.
Seiring rekan Saya di CNA, Kiki Siregar (Tak mempunyai Interaksi keluarga meski kami Mempunyai marga Batak Nan Baju), kami mengerjakan perjalanan ciptakan mendapat kejelasan Nan selama ini Saya dan keluarga dambakan.
Berdasarkan informasi Nan kami miliki serta lewat sejumlah penelusuran, terdapat kelebihan dari Esa orang Nan memainkan peran sandi selama enam rembulan ketika penyanderaan Bapak Saya.
Di antaranya Ialah kolega Bapak Saya, om Fery Santoro, seorang kamerawan Nan juga ikut disandera bagian dalam peristiwa tersebut.
Eksis pula om Munir Noer, kolega lainnya, Nan selama berbulan-rembulan Berikhtiar membebaskan mereka.
ciptakan mengorganisir kembali potongan-potongan romansa terkait peristiwa Nan telah berlalu kelebihan dari dua Dasawarsa ternyata pas menantang. Kami mengerjakan perjalanan mendatangi sejumlah Loka ciptakan berbicara langsung berdua mereka Nan terlibat bagian dalam peristiwa ini.
Fery Santoro, juru kamera dan kolega
Fery berusia 35 tahun ketika ia diculik Seiring Bapak Saya. Mobil Nan mereka tumpangi disergap Laskar GAM pada 29 Juni.
Mereka disandera selama berbulan-rembulan hingga ujungnya berperan korban tembakan tidak presisi sasaran bagian dalam serangan TNI ke sebuah kamp GAM pada 29 Desember 2003. Om Fery tercapai selamat, tetapi Bapak Saya Tak. Esa orang lain Nan tewas Ialah pihak GAM.
Kami menemuinya di sebuah taman di Jakarta center ciptakan mendengarkan kembali apa Nan terwujud pada masa nahas itu.
Om Fery menceritakan bahwa GAM membawa mereka ke sebuah kawasan rawa dan menyandera mereka di sebuah gubuk panggung praktis.
Pada pagi itu, hanya Esa Personil GAM Nan memelihara mereka. Fana Personil GAM lain kesana mencari Letak persembunyian mutakhir dikarenakan meyakini TNI telah mengendus keberadaan mereka.

sinar masa, ketika sedang mendengarkan siaran radio, mereka Nan berada di gubuk seketika mendengarkan Bunyi tembakan.
“Dung. Dung. Dung. Dung. Dung. Suaranya nyaring. Saya Loncat, kami menyelamatkan diri masing-masing …”, ucapan om Fery.
“Saya Tak tahu di mana Nan lainnya. Saya juga Tak tahu Saya Eksis di mana, dikarenakan Saya merangkak. Saya Mau kembali ke gubuk — Saya teringat almarhum Bapak Anda (Ridhwan), Saya menilai ngeri terwujud sesuatu padanya.”
Namun om Fery mendengarkan Bunyi di kepalanya Nan seperti berucap, “Tak, jangan.”
“Jadi Saya memutuskan Tak melakukannya.”
Dua masa kemudian, om Fery mutakhir mengetahui bahwa amang terbunuh.
Selain om Fery, Saya juga menghubungi kolega lain Bapak Saya Nan mungkin mempunyai informasi soal penembakan tersebut.
Dicky Martiaz, produser dan kolega
Dicky Martiaz, 60, Ialah kolega Bapak Saya di Jakarta. kelebihan dari Esa tahun Lampau, om Dicky sempat berucap kepada Saya pernah berbicara berdua seseorang Nan mengaku sebagai penembaknya.
Tapi ketika itu, Saya Tak sempat menanyakan detailnya, dikarenakan lebih masa lalu mama Saya memang pernah mendapat rekomendasi agar keluarga Tak perlu mencari tahu kelebihan terpencil, dan berikut saja meneruskan Hayati.
Pada tahun 2025, Saya kembali menghubungi om Dicky dan Berjumpa di sebuah kafe di Jakarta Selatan. Meski kelebihan dari Esa tahun telah berlalu, Beliau Tak pas melimpah berubah, Tetap ramah dan ada.
Om Dicky berucap, ketika ruang redaksi mengetahui Bapak Saya tewas, ia langsung ditugaskan Membikin breaking news terkait peristiwa itu.
seketika telepon di studio berdering. Seorang Pria menelepon, menginginkan sorry atas Mortalitas Bapak Saya, dan berucap itu Ialah kecelakaan.
Om Dicky menanyakan identitas lengkapnya, tapi penelepon hanya berucap “Ucok”, panggilan Biasa ciptakan orang Batak seperti Saya.
Menurut om Dicky, “Ucok” mengaku meraih perintah ciptakan menyergap Golongan GAM Nan akan melintas di titik tersebut pada Masa tertentu.
Jadi, mereka membuntuti perintah, dan Golongan itu Eksis di sana. Tapi Beliau Tak tahu siapa Nan Eksis di Golongan itu. Beliau Tak tahu, jadi mereka membunuh sesuai perintah.
Dicky Martiaz, produser dan kolega
Munir Noer, kolega di Aceh
Munir Noer Ialah kolega Nan mendukung Bapak Saya mencari Griya sewaan ciptakan kru RCTI Nan bertugas di Aceh. Beliau juga orang Nan kemudian mengetahui Bapak Saya diculik.
Selama berbulan-rembulan, om Munir mengetes melobi GAM ciptakan membebaskan Bapak Saya.
Ia Ialah Esa-satunya orang di bagian luar pihak militer Nan sempat menyaksikan jenazah Bapak Saya di Bilik mayat di Aceh, sebelum diterbangkan ke Jakarta ciptakan dimakamkan pada 30 Desember 2003.
Seiring Kiki, Saya terbang ke Aceh ciptakan mencari tahu apa Nan Tetap ia teringat terkait peristiwa itu.
Ia menuturkan kepada kami bahwa kelebihan dari Esa Masa setelah Bapak Saya tewas, seorang Marinir mendatanginya ketika ia sedang meliput banjir di Aceh.
Om Munir berucap orang tersebut, Nan ia mengenal hanya dari identitas belakangnya, menginginkan sorry atas Mortalitas Bapak Saya dan berucap bahwa timnya Tak sengaja menembaknya.
Beliau langsung lari ke arah Saya. ‘mas Munir, sorry, sorry, Saya mau menginginkan sorry.
Minta sorry, kami Tak sengaja. Kami Tak tahu itu Pak Ersa.”
Munir Noer, kolega di Aceh
Meski kami belum juga mendekati jawaban Niscaya terkait siapa Nan menembak Bapak Saya, Eksis terbatas kemajuan. Om Munir menginstruksikan kami pada penculik Bapak Saya — seorang Pria bernama Awi.
Tengku Kafrawi, Personil GAM
Om Awi – Nan bernama Orisinil Tengku Kafrawi – Ialah tidak presisi Esa orang Nan mencegat mobil Bapak Saya pada 2003.
Ketika itu, ia curiga Kenapa Eksis dua jurnalis Pria bagian dalam Esa mobil berdua dua Wanita.
Dua Wanita itu Ialah putri dari pemilik Griya Nan disewa Bapak Saya dan tim RCTI. Kebetulan, keduanya Ialah istri TNI.
Itulah Nan berperan alasan GAM ciptakan menyandera mereka.
Om Awi bercerita, ia kemudian membawa para sandera ke Loka persembunyian di puncak bukit desa Peurelak Nan terpencil.
dikarenakan penasaran bagaimana Bapak Saya menjalani masa-harinya sebagai sandera, Saya bertanya kepada Awi apakah amang pernah bercerita terkait keluarganya.
Eksis. Beliau romansa terkait Iwan (Ridhwan) Nan sedang kuliah.
Tengku Kafrawi, Personil GAM
Mendengarnya, jiwa Saya berperan kehangatan.
Sayangnya, Tak pas melimpah romansa Nan meraih dibagikan om Awi. Ia hanya menemani para sandera selama dua masa sebelum menyerahkan mereka kepada Personil GAM lainnya.
Peran om Awi bagian dalam potongan teka-teki ini berakhir. Saya dan Kiki kembali ke titik mula dan mengetes pendekatan Nan berbeda.
Bambang Darmono, Hulubalang militer Aceh
Letnan Jenderal (Purn) Bambang Darmono Ialah Hulubalang militer Indonesia di Aceh hingga mula Desember 2003, ketika Bapak Saya disandera.
“Kenapa militer Tak Berjuang kelebihan keras ciptakan membebaskan Bapak Saya?”
Itu Ialah tidak presisi Esa Soal Nan berikut menggelayuti memikirkan Saya ketika kami mengetes menghubunginya.
Melacak keberadaannya bukan perkara praktis. Setelah berminggu-Pekan menelepon dan mengirimkan pesan, Beliau ujungnya membalas.
Balasan itu menambah Esa kepingan lagi pada teka-teki ini. Secara samar, Beliau mengutarakan informasi terkait penembaknya.
Kalau Tak tidak presisi, Marinir itu.
Bambang Darmono, Hulubalang militer Aceh
Namun, ia enggan memaparkan kelebihan berikut dikarenakan pada ketika penembakan itu terwujud, ia telah Tak lagi menjabat.
Setelah berminggu-Pekan pencarian dan wawancara tak memakai output, kemungkinan mendapat jawaban Niscaya atas Mortalitas amang rasanya makin Mini.
memikirkan bahwa Saya mungkin Tak akan pernah mengetahui siapa Nan menembak amang berikut berkecamuk.

Kembali meneruskan penyelidikan dan wawancara, Eksis Esa petunjuk terakhir: Marinir Nan menginginkan sorry kepada om Munir atas penembakan Bapak Saya. Meski Tak iman penuh berada di jalur Nan akurat, Kiki dan Saya tetap mengetes menghubungi seseorang berdua identitas belakang Nan Baju.
Pada titik ini, Saya merasakan ini Ialah kesempatan terakhir. Setiap jawaban Nan menggantung makin Membikin kami cemas.
Syukurlah, setelah Sekeliling Esa rembulan mencari, kami menemukan orang itu.
tercapai! Eksis begitu pas melimpah Soal Nan Mau Saya ajukan langsung kepadanya, setidaknya ciptakan memastikan perkataannya.
Namun, setelah lebih masa lalu setuju Berjumpa berdua kami, ia kemudian menghilang tak memakai kabar.
“Y”, pejabat militer melangkah
Pejabat militer – ujar saja “Y” dikarenakan ia menolak dinyatakan namanya – mengaku timnyalah penembak Bapak Saya dua Dasawarsa Lampau.
Selama berbulan-rembulan, kami mengetes mengirimkan pesan dan menelepon – tapi tak memakai output.
Frustrasi mulai tampak ketika kelebihan dari Esa kali mendapat Asa Hampa.
ketika kami merasakan menemukan jalur buntu berdua Y, seketika kesempatan itu tampak.
Beliau setuju ciptakan Berjumpa dan bercerita – berdua syarat Tak diungkap namanya dan Tak direkam.
Apa Nan terwujud pada 29 Desember 2003
Y berucap kepada kami bahwa Beliau dan tiga rekannya menemukan kamp GAM pada 29 Desember 2003.
Mereka menyaksikan Eksis kelebihan dari Esa orang di kamp itu, tapi Paras mereka Tak terlihat Jernih.
Meyakini bahwa mereka Ialah Personil GAM, timnya mulai menanggalkan tembakan. Y mengklaim Eksis tembakan balasan. Seluruh peristiwa tersebut melangkah Sekeliling lima hingga 10 menit.

Setelah situasi mereda, Y mendekati kamp GAM tersebut dan ia menyaksikan Bapak Saya tergeletak di lantai gubuk.
Ia mengaku Tak langsung meraih mengenalinya, Tiba terungkap kartu pers di dekatnya, bertuliskan identitas Ersa Siregar.

Naluri jurnalistik Saya tampak: Apakah ia Berbicara jujur?
Namun, teringat kondisinya, Saya Tak meraih memastikan publikasi tersebut, dikarenakan hanya ia dan timnya Nan mengetahui persis apa Nan terwujud di masa itu, dan ia Ialah Esa-satunya Personil tim Nan tercapai kami lacak.
Sekeliling 23 tahun Lampau, Aceh bergejolak dan TNI ditugaskan memerangi GAM — apa pun risikonya.
Bapak Saya Ialah korban.
Selama bertahun-tahun, Saya dihantui Soal dan ketidakpastian terkait apa Nan terwujud pada dirinya.
Peristiwa Nan menimpa Bapak Saya, berperan pengingat tangguh, bagaimana sengketa membawa penderitaan.
Selama Nyaris 30 tahun sengketa Aceh (1976–2005), kelebihan dari 15.000 orang diperkirakan tewas, termasuk Penduduk sipil, militer, dan kombatan GAM.
masa ini, Saya merasakan lega bahwa melalui perjalanan Nan penuh tantangan ini, Saya menemukan jawaban atas Soal Nan selama ini tersimpan, dan Nan terpenting, memunculkan keikhlasan.
Esa hal Nan sekarang Saya yakini sepenuhnya: Saya bangga berperan putra Ersa Siregar — seorang jurnalis Handal Nan gugur ketika menjalankan pekerjaan Nan ia cintai.
