registrasi Isi
Jakarta, CNBC Indonesia – Interaksi geopolitik semesta Nan kian memanas menimbulkan perlombaan teknologi pertahanan Nan masif. Perusahaan teknologi pertahanan AS, Anduril, diberitakan inti mengoptimalkan perangkat inovatif berupa headset augmented reality (AR) super canggih hasilkan militer Amerika Perkumpulan (AS). Guna merealisasikannya, Anduril menggandeng raksasa teknologi Meta Platforms milik Mark Zuckerberg.
Headset ini bukan sekadar perangkat visual Normal, melainkan dirancang berdua kemampuan andal hasilkan medan perang Masa Ambang. Perangkat ini terintegrasi berdua platform canggih Nan Bisa memerintahkan serangan drone pembunuh hanya melalui pelacakan gerakan mata (eye tracking) dan perintah Bunyi (voice command).
Wakil kepala negara Anduril, Quay Barnett, Nan juga mantan personel Komando Operasi Spesifik Angkatan Darat AS, memimpin langsung proyek ambisius ini. Barnett mengemukakan bahwa maksud fundamental dari Penemuan ini Ialah mengoptimalkan arah ‘Orang sebagai platform senjata’ Nan terinspirasi dari konsep cyborg, dikutip dari MIT Technology penilaian, Rabu (10/6/2026).
Melalui teknologi ini, Anduril Mau mengintegrasikan prajurit lapangan dan drone bagian dalam Esa ekosistem operasi militer. Keduanya mendapatkan berbagi informasi tak memakai hambatan (seamless) dan mengeksekusi keputusan taktis secara instan.
Alur Kerja Senjata Masa Ambang AS
ketika ini, Anduril inti menggarap dua proyek Primer. Pertama, proyek Soldier Born Mission Command (SBMC) milik Angkatan Darat AS, di mana Anduril tercapai menjaga kontrak prototipe senilai US$ 159 juta pada 2025 Lampau. bagian dalam proyek ini, Anduril memodifikasi headset AR besutan Meta agar mendapatkan dipasang langsung pada helm militer standar.
Kedua, proyek Berdikari bernama ‘EagleEye’ Nan diumumkan pada Oktober 2025. Proyek bernilai komersial menjulang ini mendesain kombinasi helm dan headset Nan terintegrasi penuh. Anduril optimistis militer AS pada ujungnya akan memborong Penemuan ini.
Secara teknis, headset ini akan memunculkan informasi taktis langsung di atas bidang pandang prajurit. Mulai dari Nan praktis seperti kompas digital, peta navigasi area perang Nan kompleks, letak terbang drone terdekat, hingga pengenalan Sasaran berbasis kecerdasan buatan (AI) hasilkan menetapkan Bentuk seperti truk militer musuh.
Menariknya, platform ini didukung oleh teknologi Large Language Models (LLM) Nan inti diuji coba memanfaatkan Gemini milik Google, Llama milik Meta, hingga Claude milik Anthropic. Seluruh platform digerakkan oleh software Primer milik Anduril Nan bernama Lattice. Platform ini bertugas menyatukan keterangan dari berbagai perangkat keras militer sebagai Esa gambaran utuh. Angkatan Darat AS sendirian telah merilis komitmen anggaran sebesar US$ 20 miliar pada Maret 2025 hasilkan mengintegrasikan Lattice ke infrastruktur mereka.
ancaman Beban Informasi distribusi Prajurit
Meski menyediakan kecanggihan mutakhir, Penemuan ini bukan tak memakai celah. Mantan marinir AS, Jonathan Wong, mengevaluasi teknologi ini berpeluang memberikan beban kognitif berlebih (information overload) distribusi prajurit di garda terdepan Nan telah berada bagian dalam tekanan menjulang di medan laga.
“Seberapa Akbar kapasitas mental Nan Anda miliki hasilkan menyadari lingkungan Sekeliling Anda dan mengoperasikan teknologi ini?” kritik Wong. Ia juga mengkritisi ancaman kesalahan platform (glitch) dari penggunaan AI non-sempurna bagian dalam merekomendasikan Sasaran serangan.
Meski demikian, Anduril meyakinkan bahwa penggunaan perintah Bunyi dan pelacakan mata Malah dirancang hasilkan meminimalisasi hambatan tersebut. Selain itu, demi mematuhi regulasi kontrak militer federal AS, seluruh komponen perangkat ditegaskan memanfaatkan rantai pasokan anyar Nan Higienis dari keterlibatan perusahaan Usul China.
Persaingan Ketat dan Babak anyar Interaksi Meta-Anduril
Anduril bukanlah Pemeran tunggal bagian dalam perebutan kue anggaran pertahanan AS ini. Perusahaan sensor militer Rivet tercatat mengantongi kontrak prototipe senilai US$ 195 juta. Fana raksasa teknologi pertahanan Israel, Elbit, juga menjaga kontrak senilai US$ 120 juta pada Maret 2026.
tapak masif Pentagon beralih ke perusahaan-perusahaan ini melangkah setelah Microsoft didepak dari proyek serupa senilai US$ 22 miliarnya dibatalkan dikarenakan dinilai tidak tercapai memenuhi standar kelaikan militer.
Di sisi lain, proyek ini turut menandai babak anyar Interaksi bisnis di Silicon Valley. Pendiri Anduril, Palmer Luckey, dulunya sempat dipecat oleh Facebook (sekarang Meta) pada 2017 dikarenakan perbedaan pandangan kenegaraan terkait dukungannya kepada Donald Trump. saat ini, keduanya kembali berkoalisi di bawah kepemimpinan Mark Zuckerberg Nan juga mulai melunak terhadap pemerintahan AS.
Ancaman Konkret distribusi Iran cs
Gelontoran kontrak jumbo militer AS ini merefleksikan keseriusan Washington hasilkan mendominasi peta sengketa geopolitik semesta. Senjata super canggih ini dipersiapkan sebagai instrumen mematikan guna melewati musuh-musuh bebuyutan AS, terutama Iran Nan saat ini terlibat tensi menjulang berdua AS dan Israel di Timur inti.
Selain Iran, kesiapan militer ini juga membidik potensi eskalasi berdua poros rival lainnya seperti China, Korea Utara, hingga Rusia. Namun, Anduril menegaskan bahwa Kalau militer AS Tak menyerap platform EagleEye ini secara massal, mereka sedia memasarkan teknologi pembunuh ini ke militer republik asing sekutu AS.
(fab/fab)
Add
as a preferred
asal on Google
[Gambas:Video CNBC]