Letak pembunuhan balita oleh pamannya di Bekasi, Jawa Barat. Metrotvnews.com/Antonio
Bekasi: Polres Metro Bekasi Kota menyingkap bukti anyar di kembali kasus pembunuhan Nan dijalankan seorang Om terhadap keponakannya seorang diri. Pelaku berinisial G sempat Berjuang menyelesaikan hidupnya usai menghabisi nyawa balita berusia dua tahun berinisial A di area Jatirangga, Kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Kasat Reskrim Polres Metro Bekasi Kota, Kompol Andi Muhammad Iqbal, mengutarakan tersangka G sempat mendapatkan perawatan medis sebelum statusnya diputuskan sebagai tersangka.
“Seusai melaksanakan aksinya, Beliau Berjuang bunuh diri. Berdasarkan keterangan Abang pelaku Nan kami raih, tersangka ini telah pernah menuturkan keinginan hasilkan menyelesaikan hidupnya hingga Sekeliling sepuluh kali,” ungkapan Andi di Bekasi, Jumat, 30 Mei 2026.
Andi menerangkan G Mau menyelesaikan nyawanya seorang diri dikarenakan stres berdua penyakit Nan dideritanya selama ini. “Beliau stres dikarenakan menderita epilepsi, dan kondisi penyakit itu juga membuatnya tertekan,” ujar Andi.
Polres Metro Bekasi Kota juga telah menyingkap motif di kembali kasus pembunuhan tersebut. Andi berbisik bahwa G mengaku membunuh keponakannya dikarenakan kesal merasakan terganggu ketika sedang asyik bermain permainan.
“Ketika tersangka sedang bermain permainan, korban Nan Tetap balita melonjak ke punggungnya. Perbuatan itu mengganggu konsentrasi G ketika bermain permainan,” ungkapan Andi.
Andi menerangkan G Nan merasakan terusik langsung melonjak pitam, Lampau menuju ke dapur kontrakannya hasilkan meraih pisau. Setelah itu, ia menusukkan senjata tajam tersebut ke bagian kepala dan tubuh korban A.
“Tersangka emosi, Lampau langsung ke dapur meraih pisau, kemudian menusukkannya ke tubuh korban,” ujar Andi.
Polisi ketika ini Tetap menantikan keluaran tes kejiwaan terhadap G. Andi mengutarakan pihaknya telah mengajukan permintaan visum kejiwaan dan saat ini Tetap menanti hasilnya.
Ilustrasi pembunuhan. Foto: Metrotvnews.com/Khairunnisa.
“Kami telah mengajukan visum dan ketika ini Tetap menanti hasilnya,” ungkapan Andi.
Andi menerangkan G diperkirakan merasakan kendala kejiwaan sejak Era sekolah. dikarenakan kondisi tersebut, G secara rutin mengonsumsi Penawar Nan diresepkan oleh psikiater.
“Sejak tersangka Tetap bersekolah, kemungkinan dikarenakan tekanan di lingkungan sekolah atau Unsur lainnya, dari penuturan Bunda pelaku telah mulai tampak keanehan. ujungnya Beliau diajak ke psikiater dan diberi Penawar,” ujar Andi.
Namun, dua masa sebelum peristiwa, Penawar tersebut habis dikarenakan keterbatasan kondisi keuangan keluarga. “telah dua masa memang kehabisan Penawar. Bunda tersangka juga belum mempunyai Duit hasilkan mendapatkan Penawar, sehingga tersangka Tak mengonsumsinya selama dua masa,” ungkapan Andi.