Ngawur berbarengan Bunyi Bergetar, Keluarga Minta 4 Pembunuh Calon LC di Batam Tak Diberi Ampun


Liputan6.com, Batam – Suasana ruang sidang Primer Kusuma Atmadja, Pengadilan Negeri (PN) Batam, Senin (18/05/2026), mendadak sunyi, ketika Melia Sari, Abang calon LC Nan tewas disiksa di Batam membacakan surat wasiat orangtua. Di hadapan majelis hakim, Melia membacakan sepucuk surat dari Bapak dan ibunya Nan tak sanggup hadir membuntuti persidangan.

berbarengan Bunyi bergetar dan mata sembab, Wanita Usul Lampung Barat itu tampak sebagai saksi pelengkap bagian dalam sidang perkara dugaan pembunuhan berencana terhadap adIKNya, Nan menjerat terdakwa Wilson Lukman alias Koko, tidak presisi Esa dari empat terdakwa kasus perekrutan calon Ladies Companion (LC) oleh agensi MK Manajemen di Batam.

“Saya perwakilan dikarenakan orangtua Saya Tak sanggup pak,” tutur Melia di hadapan majelis hakim.

Sidang tersebut dipimpin Ketua Majelis Hakim Muhammad Eri Justiansyah Seiring hakim Personil Tri Lestari dan Meniek Emelinna Latuputty. Fana Jaksa Penuntut Biasa Gustirio tampak memperhatikan pembacaan surat Nan Membikin suasana ruang sidang berubah haru.

bagian dalam surat Nan dibacakannya, Bapak dan Bunda korban berpesan bahwa mereka Tak tampak hasilkan membalas dendam, melainkan memohon keadilan atas Mortalitas tragis putrinya.

“Anak kami Melia Sari berjarak dari Lampung Barat menuju petang masa ini bukan hasilkan balas dendam. Kami tampak hasilkan Esa hal, memohon keadilan,” lafal Melia Sembari menahan isak.

Kalimat demi kalimat Nan meninggalkan dari mulutnya Membikin sejumlah pengunjung sidang tertunduk. lumayan berlimpah orang keluarga korban bahkan tampak masa. Di bagian dalam surat itu, kedua orangtua korban juga menceritakan kepedihan cucu mereka Nan berikut mencari keberadaan sang Bunda Nan sekarang telah tiada.

“Dan Nyaris setiap masa, anak almarhumah bertanya mengenai: mamanya ke mana, kenapa mama Tak telepon, apa mama dibunuh, Nan bunuh mama telah dihukum belum?” berikut Melia membacakan surat tersebut.

Suasana sidang makin emosional ketika pesan bagian dalam surat orangtua korban memaparkan kondisi keluarga Nan hancur sejak Dwi Putri meninggal Bumi.

“Bunda almarhumah ketika ini sakit-sakitan, mentalnya sangat terpukul. Begitu juga Saya bapaknya,” bunyi surat itu.

extra berikut dari bagian surat Nan dibacakan keluarga menginginkan majelis hakim menjatuhkan hukuman setimpal kepada para terdakwa.

“Empat orang tiga masa terekam, disiapkan, disiksa secara keji, dilukis wajahnya, disiram air lewat hidung. Allahu Akbar, betapa sadisnya mereka bapak,” lafal Melia berbarengan Bunyi bergetar.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *